Januari 14-15, 2009
Januari minggu kedua adalah saat dimana saya mengambil keputusan untuk berjalan-jalan ke bromo. Perjalanan saya lakukan bersama 5 orang teman saya dengan mengendarai 3 sepeda motor. Rute yang kami ambil pada waktu berangkat adalah kampus-Lawang-Nongkojajar(sengaja ga ngambil rute probolinggo karena saya anggap terlalu jauh dengan tingkat kesulitan relatif sama)-Penanjakan(yg mana merupakan view point paling mantab untuk ngeliat sunrise), jalan yg kami lalui relatif masih rata dan memungkinkan untuk dilalui kendaraan biasa(bukan jip/kendaraan dengan ground clearence tinggi). Perkiraan waktu perjalanan yg sudah ditetapkan sebelumnya sesuai dengan jadwal dimana memakan waktu 2,5 jam(15.30-18.00) dengan traffic lancar.
Kondisi di lokasi tujuan dapat saya katakan sedikit memprihatinkan dari segi penerangan dan fasilitas MCK yg saya kira sangat vital. Pada saat kami tiba suasana di lokasi terlihat sangat lengang dan berkabut, ditunjang dengan tetesan embun yg semakin menggila seiring dengan hembusan kencang angin.
Sembari menghangatkan tubuh di sebuah warung yg untungnya masih buka saya dan 2 teman saya melihat lokasi, dimana ternyata gardu pandang yg kami rencanakan sebagai tempat menginap ternyata telah mengalami renovasi dan tidak memungkinkan untuk kami menginap, sedikit kecewa kami kembali turun dan mengalihkan tempat menginap di sebuah musholla.
Sekitar jam 4 pagi kami terjaga dan segera berkemas untuk melihat sunrise yg sayangnya tidak dapat kami saksikan dikarenakan kabut yg masih tebal.Alhasil kami pun hanya duduk-duduk berdiam diri di warung sembari menghangatkan diri dan menunggu berkurangnya kepekatan kabut.
Pada pukul 7.00 kami berenam bergegas turun kelautan pasir, dengan harapan dapat mendaki anak tangga bromo yg legendaris itu. Akan tetapi perjalanan yg kami harapkan akan nyaman tanpa gangguan berarti ternyata meleset dimulai dari kabut yg semakin tebal sehingga jalanan semakin licin, banyaknya aspal yg rusak, bekas longsoran tanah di beberapa titik yg perkiraan saya berusia 2-3 hari yg juga belum dibersihkan dari jalan sampai pohon tumbang yg melintang ditengah jalan.
Setibanya kami dilautan pasir rintangan berikutnya sudah kembali menghadang, kabut dan pasir yg basah menambah berat medan yg dilalui, setelah beberapa kali terpeleset dan salah jalan sehingga harus memutar arah untuk kembali, kami pun tiba di kaki gunung bromo. Sampai disini ternyata kami juga tidak mendapat restu untuk menikmati lukisan alam yg indah, sekali lagi angin yg tebal mendorong kepulan asap belerang turun hingga mencapai lautan pasir dibawahnya. Kami pun sepakat untuk berhenti sejenak di pura sembari menunggu berkurangnya kabut.
Sekitar pukul 10.00 kami pun melanjutkan perjalanan pulang ke Malang melalui jalur yg berbeda. Kami mengambil arah ke desa Ngadas yg merupakan desa terakhir jika perjalanan ke arah bromo dilakukan dari Tumpang.Sebingkai senyum tergurat di bibir kami, karena sepanjang perjalanan kami mendapatkan pemandangan yg tidak kalah indah, yaitu savanna dengan kombinasi beberapa tanaman pakis dan beberapa bunga edelweiss liar disekitar kami.
Pemandangan yg saya kira tidak semua orang berkesempatan untuk melihatnya.Begitu lepas dari lautan pasir kami pun di sambut dengan tanjakan panjang kearah view point Jemplang dimana pemandangan menjadi sangat indah dengan lautan hijau dan lanskape pegunungan dipadu dengan putihnya kabut dipuncaknya….ah ingin sekali mengulang perjalanan itu.
Begitu kami mencapai Jemplang kami memutuskan untuk beristirahat. Sekitar pukul 13.00 kami pun melanjutkan perjalanan kerah desa Ngadas dengan ditemani kabut tebal yg masih setia disekitar kami. rute setelah desa Ngadas sampai view point Gubuk Klakah dibawah coban Pelangi relatif berbahaya menurut saya, dimana diisi dengan semacam beton cor berukuran +-50x30cm yg disusun seperti paving blok dan sudah mulai tidak rata, ditambah dengan banyak titik longsor yg sekali lagi belum disingkirkan dari jalanan sehingga menyebabkan seorang siswa SMU(yg entah sedang membolos atau apa) terpeleset dibuatnya.Perjalanan yg melelahkan sekaligus menyesakkan (karena tidak dapat melihat apa-apa)tersebut akhirnya ditutup dengan jalan “makadam” setelah coban pelangi sampai Gubuk Klakah.
Begitu kami mencapai daerah Tumpang perjalanan relatif tidak ada hambatan berarti sampai setibanya kami kembali di kampus.
Sekedar catatan untuk yg berencana mengadakan perjalanan ke Bromo dengan rute yg relatif sama berikut saya berikan perkiraan biaya yg diperlukan :
- biaya bahan bakar : 40.000 pp (dengan pengisian 2 kali full tank, tetapi pada pengisian ke 2 hanya terpakai 1/2. kapasitas tangki 4,5 liter, jenis kendaraan : bebek )
- biaya penitipan motor (di view point penanjakan) : 10.000 per malam, 3.000 untuk penitipan sementara
- bawa air bersih 1,5 liter + air minum 1 liter.
- bawa jaket dan pakaian tahan air, terutama jas hujan sebagai antisipasi kabut yg tebal.
- bawa makanan yg sekiranya dapat menjaga suhu tubuh ex : coklat.







salam kenal bro
mantap sekali perjalanan sampeyan, terima kasih juga infonya
thx om…ne kmaren barusan jalan2 lagi cuman make mtb sayangnya masi blom sempet upload….^_^